Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
4.497 views

Pajak Tebu, Potret Kalap Kaum Neolib

Oleh Edy Mulyadi*

PEMERINTAH kalap! Penyebabnya penerimaan perpajakan jeblok. Padahal, pemerintah perlu dana superjumbo untuk mengeksekusi banyak proyek infrastruktur yang ambisius.

Buat menggenjot penerimaan pajak inilah, antara lain, pekan silam Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) menerbitkan beleid pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) pada gula tebu. Inilah yang dimaksud dengan pemerintah kalap pada pembuka tulisan ini.

Di negeri ini, yang namanya petani secara umum bisa disebut sebagai kelompok yang paling mengenaskan hidupnya. Mereka bekerjakeras, ekstra keras. Tapi, acap kali hasil produksi petani tidak mampu mengangkat kesejahteraan. Indikatornya nilai tukar petani (NTP) terus turun. Jangankan menjadi kaya raya, untuk sekadar mencukup kebutuhan secara layak saja sudah termasuk barang langka.

Nilai tukar petani menjadi salah satu indikator kesejahteraan petani. Ini adalah rasio indeks harga yang diterima petani dan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase. NTP > 100, berarti petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar daripada kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya. Sebaliknya, NTP < 100 berarti petani mengalami defisit. Pendapatan petani turun, lebih kecil ketimbang pengeluarannya.

Februari silam, Biro Pusat Statistik (BPS) merilis nilai tukar petani nasional sebesar 100,33%. Angka ini turun 0,58% ketimbang Januari yang 100,91%. Bulan berikutnya, turun lagi menjadi 99,95%. Penurunan ini mengkonfirmasi kian rendahnya daya beli petani sejak awal tahun. Sekadar mengingatkan saja, pada Januari 2017, nilai tukar petani mencapai 100,91%.

Nah, dengan fakta bahwa kesejahteraan petani yang terus merosot, bagaimana mungkin tanpa ba-bi-bu Menkeu mengenakan PPN 10% bagi gula tebu. Ini kan sama saja sudah jatuh tertimpa tangga dan dilindas bajaj pula.

Yang ajaib, alasan yang disorongkan pemerintah dalam menjustifikasi pengenaan PPN tadi adalah, untuk kebaikan petani tebu. Di sisi lain pemerintah mengakui PPN akan membuat pendapatan petani turun. Dengan dikenai PPN ke depan petani harus meningkatkan produktivitas. Artinya, petani dilecut agar lebih efisien. Aneh!

Sepertinya ada yang salah dari pola pikir Menkeu. Kalau niatnya mau membuat petani meningkatkan efisiensi dan produktivitas, ya semestinya justru harus memberi berbagai insentif dan bantuan. Misalnya, memberi kredit produksi dengan bunga supermurah, membantu penyediaan bibit kualitas unggul, memberi kesempatan petani membeli pupuk dengan harga subsidi, dan lainnya dan lainnya.

Adalah tidak masuk akal, di tengah kian merosotnya kesejahteraan petani tebu, pemerintah justru memberi beban dengan pengenaan PPN. Lagi pula, kalau, katakanlah, PPN 10% dimaksudkan untuk memaksa petani meningkatkan efisiensi dan produktivitas, kenapa cuma 10%? Kenapa pajaknya tidak sekalian 50% atau bahkan 90% saja?

Sesat Pikir

PPN untuk tebu adalah salah satu saja contoh dari banyak kebijakan pemerintah yang sesat pikir. Kebijakan ini untuk kesekian kalinya membuktikan bahwa Ani adalah menteri penganut mazhab neolib sejati. Jadi tidak aneh bila dia tidak memiliki empati kepada rakyatnya. Para antek neolib lebih ikhlas bekerja untuk menyenangkan majikan asingnya, walau untuk itu harus mencekik leher rakyatnya sendiri.

PPN untuk tebu yang kian menyengsarakan rakyat adalah potret betapa kalapnya pemerintah dalam menambal defisit APBN yang kian melebar. Ironisnya, ini bukanlah kali yang pertama. Sebelumnya, Sri juga pernah berencana mengejar simpanan rakyat dengan saldo Rp200 juta. Setelah mendapat reaksi dan protes keras dari banyak pihak, angkanya dinaikkan jadi Rp1 miliar.

Sebetulnya, sikap panik ini adalah buntut dari kegagalan Ani, begitu dia biasa disapa, dalam mengemban tugasnya selaku Bendahara Negara. Apalagi, kurang dari sebulan setelah didapuk jadi Menkeu, dia sesumbar bakal menarik dana orang kaya Indonesia yang disimpan di luar negeri. Konon, duit yang diparkir di Singapura saja jumlahnya tidak kurang
dari Rp4.000 triliun.

Optimisme berbau jumawa itu lahir dengan asumsi program tax amnesty bakal mendulang sukses. Sayangnya di tataran eksekusi program pengampunan pajak bisa disebut gagal total. Program Kemenkeu yang berpayung hukum UU No 11/2016 tentang Pengampunan Pajak ini ternyata gagal mengemban sejumlah tugas yang diamanatkan. Antara lain, aset repatriasi yang diperoleh dari program tax amnesty nyatanya tidak berpengaruh secara signifikan terhadap likuiditas, nilai tukar, suku bunga, dan investasi.

Gagal lainnya, dari sisi objek pajak, tax amnesty cuma berhasil menjaring 50.385 wajib pajak baru alias 0,15% dari wajib pajak potensial 2016. Program ini pun bisa disebut sepi peminat. Pasalnya, sampai batas waktu berakhir hanya 995.983 wajib pajak yang ikut. Angka ini hanya 2,95% total wajib pajak yang terdaftar pada 2016.

Pengampunan pajak pun hanya bisa menggaet penerimaan sebesar Rp107 triliun. Padahal, sejak awal pemerintah sesumbar bakal menangguk penerimaan Rp165 triliun. Artinya, Ani dan jajarannya mentok diangka 64,8%. Satu lagi, ini kegagalan yang terburuk, dari Rp1.000 triliun dana repatriasi yang ditargetkan, realaisasinya cuma Rp144,78 triliun atawa hanya 14,4%.

Sesumbar Jumawa

‘Untungnya’ Ani hanya menargetkan dana repatriasi sebesar Rp1.00 triliun. Jumlah ini tentu saja jauh dibawah perkiraan fulus orang kaya Indonesia yang disimpan di Singapura yang Rp4.000. Membandingkan dua angka ini plus realisasi dana repatriasi, terasa betul bahwa sesumbar bahwa tugas dia adalah membawa pulang duit RI yang ada di luar negeri terbukti hanyalah ilusi dan halusinasi seorang neolib yang kelewat sombong.

Sesumbar, apalagi yang kelewat jumawa, adalah satu hal. Sedangkan realiasi adalah hal lainnya lagi. Performa tax amnesty yang jauh di bawah target inilah yang menyebabkan Sri panik. Apalagi data Kemenkeu menunjukkan realisasi penerimaan perpajakan secara umum terjun terus. Pada 2016, penerimaan pajak nonmigas hanya Rp997,9 triliun. Artinya, turun dibandingkan dengan realisasi penerimaan 2015 yang Rp1.061 triliun. Angka kekurangan makin mengerikan jika merujuk pada target yang dipatok, yaitu yang sebesar Rp1.355 triliun. Ini berarti dia hanya mampu meraih 81,5% dari target.

Di benak para penganut garis neolib, rumus generik untuk menghadapi masalah anggaran memang hanya berputar pada tiga hal. Yaitu, pemangkasan budget, memalak rakyat lewat pajak, menambah utang. Masih ada cara keempat, dan kalau memungkinkan, yaitu menjual BUMN.

Memangkas anggaran dan menggenjot pajak memang akan menghasilkan fulus. Sayangnya, duit rakyat yang terkumpul tadi diprioritaskan untuk membayar utang. Dari sini mereka berharap bakal menuai pujian kreditor dan, tentu saja, lebih mudah membuat utang baru.

Ini adalah langkah malas dan jauh dari kreatif. Padahal, semestinya mereka membenahi ekonomi lewat serangkaian growth strategy. Tulisan ini tidak berniat menggurui kebijakan apa saja untuk mendongkrak laju pertumbuhan yang berbuah membaiknya kesejahteraan rakyat. Alasannya, sebagai para penyandang gelar doktor bahkan profesor ekonomi, mustahil para menteri itu tidak paham. Jadi, untuk apa mengajari ikan berenang?

Lagi pula, kan yang jadi pejabat publiknya mereka. Sudah semestinya mereka yang bekerja keras dan ekstra keras untuk mencari jalan keluar yang tepat dan cepat. Sementara rakyat sudah terlampau sibuk dengan akrobat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang makin melangit.

Di atas semua itu, alasan utama karena para pejuang neolib itu tidak akan pernah mau menerapkan stragegi dan kebijakan ekonomi yang tidak ada dalam school of thinking mereka. Apa pun konsep dan resep yang disodorkan, kalau tidak masuk dalam garis neolib, silakan mencari tempat di tong sampah. Perkara rakyat bakal semakin menderita, itu urusan lain. Kata anak muda sekarang, DL alias derita loe. *Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Toko Tas Online TBMR - Murah & Terpercaya

Toko tas online dan Pusat grosir tas TBMR menjual tas branded harga grosir. DISKON setiap hari s/d 50%. Tas wanita, tas import, tas kerja semua dijamin MURAH. Menerima Reseller.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Pusat Jam Tangan Impor Murah

Tampil cantik dan keren dengan jam tangan impor pilihan. Tersedia koleksi ribuan jam tangan untuk pria dan wanita, harga dijamin murah.
http://timitime.asia

Infaq Dakwah Center

Ustadz Purnomo, Dai Pinggiran Butuh Sanitasi MCK di Semanggi Solo. Ayo Bantu.!!

Ustadz Purnomo, Dai Pinggiran Butuh Sanitasi MCK di Semanggi Solo. Ayo Bantu.!!

Dai yang aktif berdakwah melawan pemurtadan misionaris ini tinggal di rumah sederhana tanpa kamar mandi mck. Sang istri yang berhijab kesulitan, setiap mandi, buang air dan buang hajat harus...

Rumah Anak Yatim Cikarang ini Sering Roboh, Ayo Bantu Renovasi..!!

Rumah Anak Yatim Cikarang ini Sering Roboh, Ayo Bantu Renovasi..!!

Di usia senja, Bu Janih bersama 5 anak yatimnya tinggal di rumah rombeng yang kumuh, lapuk dan sering roboh. Upah sebagai buruh cuci serabutan pun tak menentu sehingga tidak bisa memasak nasi...

Santri Korban Tabrak Ini Remuk Telapak Tangannya. Ayo Bantu Biaya Operasi!

Santri Korban Tabrak Ini Remuk Telapak Tangannya. Ayo Bantu Biaya Operasi!

Sudah 23 hari tangan Ramdani remuk dalam insiden tabrak lari. Ia harus segera dioperasi supaya patahan tulang tidak berantakan dan dagingnya tidak membusuk. Butuh dana puluhan juta untuk operasi....

WAKAF MOTOR DAKWAH: Relawan IDC Serahkan Sepeda Motor untuk Dai Lereng Gunung Lawu

WAKAF MOTOR DAKWAH: Relawan IDC Serahkan Sepeda Motor untuk Dai Lereng Gunung Lawu

Relawan IDC Solo Raya menyerahkan wakaf sepeda motor kepada Ustadz Sriyono untuk menunjang aktifitas dakwah di tempat-tempat terpencil yang sulit dijangkau di lereng Gunung Lawu...

3 Tahun Menderita Tumor Ganas, Kang Yoyo Tak Bisa Bekerja dan Berjamaah Masjid. Ayo Bantu..!!

3 Tahun Menderita Tumor Ganas, Kang Yoyo Tak Bisa Bekerja dan Berjamaah Masjid. Ayo Bantu..!!

Aktivis masjid ini menderita tumor ganas dan tidak bisa berobat karena terbentur biaya. Daging tumornya terus membesar seukuran bola futsal. Ayo bantu bisa bekarja dan berjamaah di masjid lagi....

Latest News
SOHR: Serangan Udara Rezim Assad di Kamp Yarmuk Tewaskan 6 Warga Sipil

SOHR: Serangan Udara Rezim Assad di Kamp Yarmuk Tewaskan 6 Warga Sipil

Rabu, 25 Apr 2018 21:00

Hadiri, 'Menjadi Keluarga Sakinah di Zaman Fitnah' Bersama Ust. Oemar Mita

Hadiri, 'Menjadi Keluarga Sakinah di Zaman Fitnah' Bersama Ust. Oemar Mita

Rabu, 25 Apr 2018 20:51

[VIDEO] Prosesi Pelepasan Jenazah Asy Syahid Dr Fadi Al-Batsh

[VIDEO] Prosesi Pelepasan Jenazah Asy Syahid Dr Fadi Al-Batsh

Rabu, 25 Apr 2018 20:50

Polisi Malaysia Rilis Foto Salah Satu Tersangka Pembunuh Ilmuan Palestina

Polisi Malaysia Rilis Foto Salah Satu Tersangka Pembunuh Ilmuan Palestina

Rabu, 25 Apr 2018 20:36

[VIDEO] Tim 11 Ulama Alumni 212 Ungkap Hasil Pertemuan Tertutup dengan Jokowi

[VIDEO] Tim 11 Ulama Alumni 212 Ungkap Hasil Pertemuan Tertutup dengan Jokowi

Rabu, 25 Apr 2018 20:31

Pembunuhan Kepala Politik Saleh Al-Sammad Kemunduran Besar Bagi Pemberontak Syi'ah Houtsi

Pembunuhan Kepala Politik Saleh Al-Sammad Kemunduran Besar Bagi Pemberontak Syi'ah Houtsi

Rabu, 25 Apr 2018 20:05

DDII: Anjuran Pilih Orang Islam di Masjid Tidak Masalah

DDII: Anjuran Pilih Orang Islam di Masjid Tidak Masalah

Rabu, 25 Apr 2018 19:06

UBN: Dakwah Politik Islam Di Masjid Boleh

UBN: Dakwah Politik Islam Di Masjid Boleh

Rabu, 25 Apr 2018 19:01

Ketua DDII Jabar Setuju Jangan Politisasi Masjid Jika Maknanya Seperti Ini

Ketua DDII Jabar Setuju Jangan Politisasi Masjid Jika Maknanya Seperti Ini

Rabu, 25 Apr 2018 16:57

Taliban Umumkan Ofensif Musim Semi Baru, Disebut Operasi Al-Khandaq

Taliban Umumkan Ofensif Musim Semi Baru, Disebut Operasi Al-Khandaq

Rabu, 25 Apr 2018 16:30

Jangan Tabu Membahas Politik di Masjid

Jangan Tabu Membahas Politik di Masjid

Rabu, 25 Apr 2018 14:09

[VIDEO] Terima Kasih Donatur. 130 Hidangan Maidaturrahmah 13 April 2018 telah diibagikan

[VIDEO] Terima Kasih Donatur. 130 Hidangan Maidaturrahmah 13 April 2018 telah diibagikan

Rabu, 25 Apr 2018 13:12

Munarman: Pemisahan Masjid dan Politik Itu Konsep Snouckhurgronye

Munarman: Pemisahan Masjid dan Politik Itu Konsep Snouckhurgronye

Rabu, 25 Apr 2018 11:03

SoA: Pembunuhan Dr Fadhi Ungkap Sejatinya Israel

SoA: Pembunuhan Dr Fadhi Ungkap Sejatinya Israel

Rabu, 25 Apr 2018 10:58

Wakil DPD RI Ingatkan Kondisi Keamanan Jelang Pilkada Serentak

Wakil DPD RI Ingatkan Kondisi Keamanan Jelang Pilkada Serentak

Rabu, 25 Apr 2018 09:44

Mesir Izinkan Jenazah Ilmuan Palestina Dikembalikan ke Gaza Lewat Perbatasannya

Mesir Izinkan Jenazah Ilmuan Palestina Dikembalikan ke Gaza Lewat Perbatasannya

Rabu, 25 Apr 2018 09:35

Politisasi Masjid Harus Dijelaskan Dulu Maknanya

Politisasi Masjid Harus Dijelaskan Dulu Maknanya

Rabu, 25 Apr 2018 09:13

MUI: Jangan Sampai Antipolitisasi Masjid Guna Lancarkan Kampanye Politik di Rumah Ibadah Non-muslim

MUI: Jangan Sampai Antipolitisasi Masjid Guna Lancarkan Kampanye Politik di Rumah Ibadah Non-muslim

Rabu, 25 Apr 2018 08:49

Pemerintah akan Datangkan Dosen Asing dengan Gaji Rp. 39-65 Juta

Pemerintah akan Datangkan Dosen Asing dengan Gaji Rp. 39-65 Juta

Rabu, 25 Apr 2018 08:15

Diduga Tidak Adil, PP KAMMI: Copot Direktur Utama PT Telkom Indonesia

Diduga Tidak Adil, PP KAMMI: Copot Direktur Utama PT Telkom Indonesia

Rabu, 25 Apr 2018 08:15


Reseller tas batam

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X