Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah
Facebook RSS
4.725 views

Semiotika Pemberitaan Terorisme

Sahabat Voa Islam...

Apa yang bisa kita tangkap dari pemberitaan media (televisi) terkait dengan kasus terorisme?

Saya kira, mereka ingin menanamkan apa yang disebut “The Pictures in Our Heads, seperti kata Walter Lippman penulis buku klasik “Opini Umum”. Begitulah media saat ini mencuri-curi peran tersebut.

Media, khususnya televisi ingin menamkan sebuah gambaran realitas yang mereka kehendaki. Dalam kasus pemberitaan terorisme, kecenderungan yang demikian begitu terlihat. Pemberitaan terorisme di televisi begitu gegap gempita, ditampilkan secara dramatis dalam visualisasinya dengan harapan menunjukkan betapa bahayanya aksi teroris. Lengkap dengan komentar-komentar, yang dominan dimana opini dikuasai dari pihak berwajib, alias pihak kepolisian (Densus 88).

Inilah wajah televisi dalam memberitakan terorisme. Apakah demikian realitasnya? Tidak selalu. Seperti dalam kaidah jurnalisme, berita pada dasarnya adalah konstruksi dari wartawan. Wartawan hanya mengambil sebagian peristiwa saja yang dianggapnya penting menurutnya. Tentu disesuaikan dengan politik media di mana mereka bekerja.

Untuk mengetahui bagaimana logika ini bekerja, ada baiknya kita ketengahkan paparan John Fiske, penulis beberapa buku terkenal seperti television culture, reading television serta introductions to communication studies.

* Pertama*, tahap realitas, bagaimana peristiwa ingin ditampilkan oleh wartawan yang bisa terlihat dari visualisasi media televisi. Kedua, tahap representasi, di mana terjadi proses editing, penyesuaiaan gambar agar nampak dramatis, penampilan secara berulang-ulang, penambahan efek-efek seperti suara, musik dsb. Ketiga, tahap ideologi yaitu pesan-pesan tertentu apa yang ingin ditanamkan kedalam benak dan pikiran pemirsa.

**Penanaman “The Pictures in Our Heads” seperti yang tersebut di atas. * *

Ketika media (televisi) melakukan kerja-kerja demikian. Sebuah kerja-kerja sistematis sebagai sebuah industri media. bagaimana dengan publik (pemirsa)? Tentu kitapun mempunyai logika sendiri. Sebuah logika yang dibangun dalam rangka merespon pemberitaan yang ditayangkan stasiun televisi. Sikap kritis dan skeptis perlu kita kedepankan.

Agaknya, tak salah kalau kita terapkan statemen Jerry D. Gray, penulis buku “Dosa-Dosa Media Amerika”. Dalam awal buku tersebut dikatakan.“Bukan apa yang mereka katakan, melainkan apa yang mereka tidak katakan”. Sikap yang demikian perlu agar kita bisa memaknai dengan benar setiap informasi (pemberitaan) yang ditayangkan.

Nah, untuk memaknai setiap pemberitaan, dalam hal ini kasus terorisme, kita memerlukan perangkat yang sistematis pula.

Perangkat yang ingin saya gunakan adalah Ilmu Semiotika (Ilmu Tanda).

Semiotika sendiri berasal dari bahsa Yunani Semion yang berarti tanda. Selanjutnya, semiotika didefinisikan setidaknya sebagai studi tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja. Dalam kasus pemberitaan terorisme, saya akan mempergunakan salah satu cabang dari semiotika untuk membedahnya, yaitu dengan semiotika sosial. Halliday (1993) dalam buku Language as Social Semiotic, The Social Interpretation of Language and Meaning mengartikan semiotika sosial sebagai berikut; Semiotika sosial memandang bahwa sebuah naskah terdiri dari tiga komponen utama: medan wacana (cara pembuat wacana memperlakukan suatu peristiwa); pelibat wacana (sumber yang dikutip atau orang-orang yang dilibatkan beserta atribut sosial mereka dalam suatu wacana), dan sarana wacana (cara pembuat wacana menggunakan bahasa dalam manggambarkan peristiwa).

Alex Sobur (2001) memperjelas pengertiannya bahwa dalam menggunakan semiotika sosial untuk menganalisis teks media, ada tiga unsur yang menjadi pusat perhatian penafsiran teks secara kontekstual.

Diantaranya,

pertama,*medan wacana (field of discourse) :

menunjuk pada hal yang terjadi: apa yang dijadikan wacana oleh pelaku (media massa) mengenai yang terjadi dilapangan peristiwa.

*Kedua, pelibat wacana (tenor of discourse) menunjuk pada orang-orang yang dicantumkan dalam teks (berita) :

sifat orang-orang itu, kedudukan dan peranan mereka. Dengan kata lain, siapa saja yang dikutip dan bagaimana sumber itu digambarkan sifatnya.

Ketiga, sarana wacana (mode of discourse) menunjuk pada bagian yang diperankan oleh bahasa :

bagaimana komunikator (media massa) menggunakan gaya bahasa untuk menggambarkan medan (situasi) dan pelibat (orang-orang yang dikutip) ; apakah menggunakan bahasa yang diperhalus atau hiperbolik, eufimistik atau vulgar.

Lantas, bagaimana semiotika sosial tersebut kita pergunakan dalam membedah (menganalisis) kasus pemberitaan terorisme, mari kita lihat:

Pertama, medan wacana (field of discourse).

Isu terorisme oleh stasiun televisi dijadikan komoditas dalam arti sebagai barang dagangan. Bagi mereka isu mengenai terorisme sangat menguntungkan. Maka tak heran jika ada sebuah strasiun televisi yang melaporkan beragam tayangan yang di klaim “Eksklusif”. Kalau mau jujur, misalnya dalam tayangan penggrebegan orang yang diduga teroris di Temanggung. Eksklusifitas tersebut bukan sebuah prestasi jurnalisme dalam melakukan investigasi. Tetapi hanya sekedar kemampuan akses ke aparat. Dalam hal ini, hanya soal bagaimana punya tawar menawar saling menguntungkan. Saya kira, misalnya ketika pihak TV-One menyiarkan tayangan “Ekslufif” itu harus dibayar mahal dengan menjadikan televisi tersebut corong polisi dan jelas membuat wartawan tanpa daya, secara sadar mematikan daya kritisnya sebagai wartawan untuk tidak mempertanyakan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi, tak ada investigasi dalam pemberitaan tersebut bahkan verifikasi paling dasar sekalipun. Maka, boleh dikatakan dalam kasus ini adalah sebuah wajah nyata “Matinya Jurnalisme Televisi”.

Kedua, pelibat wacana (tenor of discourse)

Mengenai orang-orang yang terlibat dalam pemberitaan, saya menilai yang paling dominan adalah suara dari aparat kepolisian. Pihak ini merupakan pelibat wacana yang secara aktif diketengahkan sebagai narasumber. Sangat sedikit suara-suara yang berasal dari mereka yang diduga teroris tersebut. Memang ada sedikit wawancara dari misalnya teman-teman yang diduga teroris tersebut. Namun kalau kita lihat hanya sekenannya saja agar terlihat berita terkesan berimbang.

Padahal kita tahu, banyak dari narasumber yang tak kenal dekat dengan para pelaku yang diduga teroris tersebut.

Sementara, kalau kita lihat, dalam kasus pemberitaan terorisme beberapa waktu lalu, yang paling fenomenal adalah munculnya mantan Kepala Densus 88 Suryadarma Salim.

Lewah tokoh ini, kepolisian khususnya Densus 88 digambarkan sebagai seorang hero, profesional yang berhasil mengungkap kasus terorisme di Indonesia. Padahal fakta membuktikan, untuk menangkap 1 orang yang diduga teroris saja butuh sebanyak 600 personil. Ini sebuah ironi yang nyata. Dan media tak pernah mempertanyakannya. Ketiga, sarana wacana (mode of discourse) Gaya bahasa yang digunakan adalah labelisasi mengenai teroris yang sering dialamatkan kepada umat Islam. Kata yang paling sering digunakan adalah kata “diduga teroris”. Dugaan ini media yang membuat dan kadang sering bersumber dari kepolisian sepihak.

Disisi lain media juga pernah salah dalam melakukan pemberitaan, misalnya disebut tokoh yang membom JW Marriot dan Rizt Carlton adalah Nur Hasbi, kemudian ternyata salah. Belum lagi, sering ditampilkan gaya berpakaiaan dengan jenggot, pakaiaan putih panjang dsb. Melihat gaya pemberitaanpun, kita paham bahwa berita-berita ditampilkan secara hiperbolis dan berlebihan.

Berisi berita yang kadang belum jelas, simpang siur sehingga berpotensi membingungkan mereka yang menontonnya. Hasilnya, berita yang disajikan nyaris tanpa pencerahan. Yang ada hanyalah berita-berita bombastis yang menguntungkan pihak media saja. Memang, ulasan tersebut hanya permukaan saja. Masih perlu diadakan kajian yang lebih mendalam agar kita bisa mengungkap “dosa-dosa media’.

Namun, tak ada salahnya kalau kita katakan bahwa pemberitaan mengenai kasus terorisme selama ini kental sekali politik media dimainkan untuk kepentingan sepihak industri media, bukan untuk kepentingan publik. Inilah kiranya kita perlu merebut kuasa, dari kuasa media menuju kuasa publik. Dan, dengan terus menerus mengupayakan masyarakat melek media (media literacy) kita bisa merebut kuasa itu.

Semoga.

Demikian opini Redaksi yang disadur dari Sudaryono Achmad, pemerhati media, tinggal di pinggiran Jakarta

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Opini Redaksi lainnya:

+Pasang iklan

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas???

Di sini tempatnya-Kiosherbalku.com melayani Grosir & Eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan DISKON sd 60%. Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Toko Tas Online TBMR - Murah & Terpercaya

Toko tas online dan Pusat grosir tas TBMR menjual tas branded harga grosir. DISKON setiap hari s/d 50%. Tas wanita, tas import, tas kerja semua dijamin MURAH. Menerima Reseller.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Obat Herbal Mabruuk

Sedia obat herbal berbagai penyakit: Kolesterol, Maag,Asma, Diabetes, Darah Tinggi, Jantung, Kanker, Asam Urat, Nyeri Haid, Lemah Syahwat, Kesuburan, Jerawat, Pelangsing, dll
http://www.herbalmabruuk.com

Royal Islam Indonesia Umroh & Haji Tours

Paket umroh, Paket Umroh Ramadhan, Paket Haji Plus, Paket Wisata Cairo. Mulai $ 2.000
http://royalislamindonesia.com

Infaq Dakwah Center

Daffa Rahmatillah Tutup Usia, Infaq Rp 16,7 Juta Disalurkan untuk Melunasi Tagihan Rumah Sakit

Daffa Rahmatillah Tutup Usia, Infaq Rp 16,7 Juta Disalurkan untuk Melunasi Tagihan Rumah Sakit

Daffa meninggal setelah dirawat intensif 13 hari. Semoga Allah membalas para donatur dengan keberkahan, rezeki melimpah, mensucikan jiwa, menolak bencana, dan melapangkan jalan ke surga....

Dapatkan Tausiyah Harian & Update Berita Islam, Mari Bergabung dalam Komunitas Info Dakwah

Dapatkan Tausiyah Harian & Update Berita Islam, Mari Bergabung dalam Komunitas Info Dakwah

Komunitas saling berbagi nasihat, ilmu dan update informasi dunia Islam. Semua dibagikan langsung ke HP anggota, 100% Free/Gratis..!!!...

Menderita Hernia Sejak Lahir, Musa Anak Mujahid Harus Segera Dioperasi. Ayo Bantu!!!

Menderita Hernia Sejak Lahir, Musa Anak Mujahid Harus Segera Dioperasi. Ayo Bantu!!!

Musa anak mujahid mendapat ujian Allah, menderita hernia sejak lahir. Setelah di-USG di RS Ummi Bogor, dokter menyatakan berusia 3,5 tahun ini harus segera dioperasi. Butuh biaya 8 juta rupiah....

Yuliana, Pejuang Keluarga yang Hebat, Butuh Dana 11 Juta Lunasi Tagihan Pesantren Anaknya. Ayo Bantu!!

Yuliana, Pejuang Keluarga yang Hebat, Butuh Dana 11 Juta Lunasi Tagihan Pesantren Anaknya. Ayo Bantu!!

Saat sang suami di-phk karena sakit jiwa, ia menjadi buruh cuci pakaian dengan gaji satu juta rupiah perbulan. Susah payah berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, biaya pendidikan, dan pengobatan...

Terusir dari Keluarga, Muallaf Noval Joe Kho Fei Butuh Modal Usaha 12 Juta. Ayo Bantu!!

Terusir dari Keluarga, Muallaf Noval Joe Kho Fei Butuh Modal Usaha 12 Juta. Ayo Bantu!!

Di usia keislaman yang belum genap dua tahun, muallaf ini mendapat banyak ujian iman: terusir dari keluarga, kehilangan pekerjaan di rezim Ahok, kontrakan menunggak 6 bulan, anaknya sakit paru-paru,...

Latest News
Anies Kunjungi Lokasi Banjir di Cipinang Melayu, Warga : Akhirnya Kami Diperhatikan

Anies Kunjungi Lokasi Banjir di Cipinang Melayu, Warga : Akhirnya Kami Diperhatikan

Senin, 20 Feb 2017 17:26

Takdir Eropa dan Kekalahan Turki Usmani dalam Sepotong Roti Croissant

Takdir Eropa dan Kekalahan Turki Usmani dalam Sepotong Roti Croissant

Senin, 20 Feb 2017 16:27

Prof Dr. H Deddy Ismatullah Ketua Umum Baru PP Bakomubin

Prof Dr. H Deddy Ismatullah Ketua Umum Baru PP Bakomubin

Senin, 20 Feb 2017 16:24

Tim Pemenangan Anies: Pemda DKI Itu Punya Mitra, tapi sekarang seperti Superman

Tim Pemenangan Anies: Pemda DKI Itu Punya Mitra, tapi sekarang seperti Superman

Senin, 20 Feb 2017 15:57

Lagi, WNA China Ilegal Ditangkap di Bogor

Lagi, WNA China Ilegal Ditangkap di Bogor

Senin, 20 Feb 2017 13:41

Video Bela Diri Untuk Wanita & Anak dari PELECEHAN, Mudah Langsung dr VIDEO

Video Bela Diri Untuk Wanita & Anak dari PELECEHAN, Mudah Langsung dr VIDEO

Senin, 20 Feb 2017 13:09

Petahana Miliki Keuntungan, Tim Pemenangan Agus: Kami Miliki Konsep dan Leadership

Petahana Miliki Keuntungan, Tim Pemenangan Agus: Kami Miliki Konsep dan Leadership

Senin, 20 Feb 2017 12:57

FlashDisk SUPER IZZAH ISLAM untuk Windows, Android, Mac iOs dan Linux

FlashDisk SUPER IZZAH ISLAM untuk Windows, Android, Mac iOs dan Linux

Senin, 20 Feb 2017 12:05

Kuwait Penjarakan Pejabat Senior Mereka Karena Bergabung dengan Islamic State (IS)

Kuwait Penjarakan Pejabat Senior Mereka Karena Bergabung dengan Islamic State (IS)

Senin, 20 Feb 2017 12:00

Memberikan Zakat ke Adik yang Faqir?

Memberikan Zakat ke Adik yang Faqir?

Senin, 20 Feb 2017 10:36

Trump Akan Bangun Zona Aman di Suriah, Tapi Pakai Uang dari Negara Teluk Bukan AS

Trump Akan Bangun Zona Aman di Suriah, Tapi Pakai Uang dari Negara Teluk Bukan AS

Senin, 20 Feb 2017 10:30

Akui Pasukan Oranye Sumbang Suara terbesar Ahok, PDIP juga Harap SBY & Megawati Bertemu

Akui Pasukan Oranye Sumbang Suara terbesar Ahok, PDIP juga Harap SBY & Megawati Bertemu

Senin, 20 Feb 2017 09:57

Jerman Deportasi 80.000 Pengungsi di Tahun 2016

Jerman Deportasi 80.000 Pengungsi di Tahun 2016

Senin, 20 Feb 2017 08:58

Selamatkan Generasi Muda, Aher Deklarasikan Front Anti Narkoba

Selamatkan Generasi Muda, Aher Deklarasikan Front Anti Narkoba

Senin, 20 Feb 2017 07:13

Dukung Paslon Putaran Kedua, Agus Disarankan Sampaikan Sendiri tapi Libatkan SBY dan Prabowo

Dukung Paslon Putaran Kedua, Agus Disarankan Sampaikan Sendiri tapi Libatkan SBY dan Prabowo

Senin, 20 Feb 2017 06:57

PAN Tidak Dukung Ahok karena Karakter, Bukan karena Kristen atau Cina

PAN Tidak Dukung Ahok karena Karakter, Bukan karena Kristen atau Cina

Ahad, 19 Feb 2017 23:59

Ayah Bunda Bawa Aku ke Surga Bersamamu

Ayah Bunda Bawa Aku ke Surga Bersamamu

Ahad, 19 Feb 2017 22:00

Ini Penghormatan Demokrat terhadap Relawan Agus yang Dukung Anies-Sandi

Ini Penghormatan Demokrat terhadap Relawan Agus yang Dukung Anies-Sandi

Ahad, 19 Feb 2017 21:59

Pejuang Oposisi Akhiri Operasi Tahap Pertama dan Kedua di Daraa, Bunuh dan Lukai 100 Tentara Assad

Pejuang Oposisi Akhiri Operasi Tahap Pertama dan Kedua di Daraa, Bunuh dan Lukai 100 Tentara Assad

Ahad, 19 Feb 2017 20:45

Roy Suryo: Tidak Salah Relawan Agus Dukung Anies-Sandi

Roy Suryo: Tidak Salah Relawan Agus Dukung Anies-Sandi

Ahad, 19 Feb 2017 18:59


Must Read!
X